Honda Grand ‘Butut’: Saksi Bisu Perjuangan Kuliah dari Dusun Kutan ke Jogja

Honda Grand milik saya ini tampak terparkir tenang. Bagi orang lain, mungkin ini hanyalah motor tua atau “motor butut”. Namun, bagi saya, setiap lekukan bodinya adalah rekaman memori yang tidak akan pernah luntur oleh zaman. Jadi, motor ini bukan sekadar alat transportasi, melainkan mesin waktu yang membawa saya kembali ke masa sekolah dan bangku kuliah.

Kenangan Masa Sekolah Bersama Honda Grand Dusun Kutan

Melihat sosok motor ini selalu mengingatkan saya pada masa remaja. Di saat teman-teman mungkin mengincar motor keluaran terbaru, si “Grand” inilah yang setia menemani saya berangkat sekolah. Oleh karena itu, suara mesinnya yang khas menjadi melodi harian yang mengawali semangat pagi saya.

Suka Duka Melewati Jalan Magelang Menuju Jogja

Selanjutnya, suka duka paling mendalam terjadi saat masa kuliah. Saya masih ingat betul rutinitas menempuh perjalanan jauh dari Dusun Kutan menuju Yogyakarta. Jalur utama yang selalu saya lewati adalah Jalan Magelang. Selain panjang, jalan raya ini menjadi saksi bisu perjuangan setiap harinya.
  • Penuh Suka: Saya bisa merasakan semilir angin pagi dan kepuasan tersendiri saat si Grand melaju stabil di aspal lurus Jalan Magelang.
  • Penuh Duka: Namun, saya juga pernah kehujanan hingga basah kuyup sebelum sampai kampus. Selain itu, saya harus menahan dinginnya angin malam saat pulang larut.

Alasan Honda Grand Dusun Kutan Tetap Melegenda

Salah satu alasan mengapa motor ini tetap melegenda adalah mesinnya yang bandel dan irit. Selama bertahun-tahun melintasi rute tersebut, motor ini jarang sekali “rewel”. Akibatnya, saya hanya perlu melakukan perawatan rutin yang ringan. Karena bensinnya sangat hemat, motor ini sangat cocok untuk kantong mahasiswa pada masanya.

Nostalgia Keliling Dusun dengan Kondisi Terawat

Meskipun kini teknologi motor sudah berkembang, si Grand tetap memiliki tempat istimewa. Sampai sekarang, Honda Grand Dusun Kutan ini masih terawat dengan sangat baik dan tetap mengkilap. Saat ini, saya sering menggunakannya untuk beberapa hal berikut:
  1. Keliling Dusun: Menikmati sore yang tenang di sekitar tempat tinggal.
  2. Wisata Lokal: Mengunjungi tempat-tempat tersembunyi dengan motor yang ramping.
  3. Menjaga Memori: Merasakan kembali sensasi berkendara seperti belasan tahun yang lalu.
Akhirnya, motor ini menjadi bukti bahwa cerita di balik sebuah kendaraan jauh lebih berharga daripada harga jualnya. Ia bukan sekadar besi tua, melainkan kawan setia dalam perjuangan.  

2 pemikiran pada “Honda Grand ‘Butut’: Saksi Bisu Perjuangan Kuliah dari Dusun Kutan ke Jogja”

Tinggalkan Komentar